You Change My World | Chapter 3 –You Are My Hero–
Main cast : Lee Soo Ra (OC), Kim Myung Soo/L (Infinite)
Support cast : Lee's Family, Kim's Family, other.
Genre : School life, Romance, Family, Happy
Rate : G
Lenght : Chapter
Cover by : Rosilah Everlastingfriend
Disclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka. Story = Mine & Casts = milik Tuhan
NB : Warning, typo’s every where! Don’t be siders! Don’t be plagiarist! Don’t forget to RCL, hargai author :D Hope you like it! ^_^
“...Thank you for loving me, thank you for watching me, thank you making me feeling like this...”
Chapter 1 –First I Meet You– https://kiyaazuki.blogspot.co.id/2016/06/you-change-my-world-chapter-1-first-i_4.html
Chapter 2 –This Is Love– https://kiyaazuki.blogspot.co.id/2016/06/you-change-my-world-chapter-2-this-is.html
Chapter 3 –You Are My Hero–
Happy reading~
-
-
-
“Ani, aku belum mencium seorang yeoja pun kecuali eommaku. Kau lah yeoja yang pertama kali mendapatkan itu. Waktu itu kau bila aku mencuri first kiss mu? Aku akan bertanggung jawab atas itu karena kini aku mulai tertarik denganmu”
“Mwo?” Soo Ra membelalakan matanya tak percaya akan apa yang diucapkan oleh Myung Soo
“Apa aku tidak salah dengar?” Lanjutnya
“Ne, itulah kebenaran yang baru ku sadari” Jawab Myung Soo
“Wae? Kenapa harus aku? Tidak adakah yeoja lain di dunia ini yang menarik selain aku? Bahkan waktu itu kita tak saling mengenal”
“Aku terpikat oleh tatapan matamu yang menenangkan, dan aku belum pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya. Kini kita dipertemukan kembali, mungkin ini yang namanya takdir” Perlahan Myung Soo mendekati Soo Ra
“Hiya, apa yang mau kau lakukan Myung Soo-ya!? Jangan mendekat” Cegah Soo Ra, kini dia mulai berpikiran yang tidak-tidak. Mengingat kejadian 2 hari yang membuatnya tidak dapat fokus akhir-akhir ini, agar tak terulang kembali. Tapi Myung Soo malah semakin mendekatinya, Soo Ra menutup matanya, dan .....
Myung Soo mengambil ponsel Soo Ra yang berada di atas lemari kecil di belakang Soo Ra, Myung Soo melihat Soo Ra menutup mata merasa bingung.
“Wae? Kenapa kau menutup matamu?” Tanya Myung Soo, lalu Soo Ra pun membuka matanya dan berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
“Mu-mungkin aku mengantuk, aku akan istirahat” Jawab Soo Ra terbata. ‘Pabbo-ya, apa yang baru saja ku pikirkan. Dia tidak mungkin melakukannya lagi, lagi pula saat di taman itu tak disengaja dilakukannya’
Lalu Myung Soo mengetikan sesuatu di ponsel Soo Ra dan mengirimnya ke sebuah nomor.
“Hiya, kenapa kau mengambil ponselku. Kembalikan!”
“Tunggu dulu, nah selesai. Ige”
“Apa ini? L?”
“Itu nomor teleponku, mungkin lain kali akan berguna. Dan L, itu adalah nama panggilanku saat dulu tinggal di Jepang kurasa mulai saat ini dan seterusnya kau juga harus memanggilku dengan nama itu, arra?”
“Ne”
“And I can call you baby!”
“Hiya, sudah ku bilang aku tak menyukai panggilan itu. Biasa saja, panggil aku Soo Ra-ya”
“Shireo!”
“Geurae, aku juga takkan memanggilmu L”
“Itu baru saja kau sebutkan baby!”
“Myung Soo-ya aku hanya mencontohkan saja” Jelas Soo Ra yang kesal sambil empoutkan bibirnya, Myung Soo hanya dapat tertawa melihat tingkah Soo Ra yang lucu itu.
“Apa yang kau tertawakan hah!?”
“Kkkk~ kau sangat lucu saat kesal seperti itu”
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari balik pintu kaca ruangan tersebut.
“Mereka terlihat akrab, dan dia memang orang yang tepat” Gumam Donghae, lalu berlalu meninggalkan ruangan tempat Soo Ra dan Myung Soo berada.
-
-
-
@Kyunghee Senior High School
Pagi ini Soo Ra melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya, seperti biasanya dia berangkat bersama oppanya dan appanya seperti biasanya pergi ke kantor Group Kyunghee untuk mengurus berbagai hal mengenai keperluan Kyunghee High School yang telah dibangunnya sejak 10 tahun yang lalu. Tapi hari ini terlihat tidak seperti hari-hari sebelumnya, saat dia akan menuju kelasnya dia melihat segerombolan yeoja tengah berkumpul di depan ruang kepala sekolah. ‘Ada apa ini?’ Gumam Soo Ra dalam hati. Lalu dia pun berusaha melewati segerombolan yeoja itu, karena lewat jalan ini dia akan lebih cepat sampai ke kelasnya.
“Aiigoo, tampan sekali namja itu” Kata seorang yeoja
“Ku dengar dia murid pindahan dari Jepang” Timpal yeoja lainnya
‘Ada murid pindahan?’ Gumam Soo Ra dalam hati. Lalu dia pun melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di kelas dia langsung duduk di kursi paling depan dan mengeluarkan buku yang menjadi bacaan yang wajib setiap harinya. Suasana kelas yang begitu ramai membuatnya sedikit terganggu. Lalu dia menempelkan earphone pada telinganya, karena dengan cara ini dia dapat tenang dan nyaman selama membaca. Dia hanya membaca selama pelajaran belum dimulai, dan dia sudah tahu batasnya adalah 15 menit untuk membaca. Dia memperhatikan arlojinya sesekali untuk memastikan bahwa dia tak ketinggalan saat pelajaran di mulai.
Ting Tong~ Bel pun berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai, lalu semua murid bersiap. Choi Songsaenim pun memasuki kelas, kali ini adalah pelajaran Matematika. Pelajaran yang sangat disukai Soo Ra, meski bagi orang lain mungkin pelajaran ini paling dibenci. Ya, karena kita harus menghapal berbagai macam rumus yang memusingkan, tapi bagi Soo Ra ini adalah hal yang mudah, karena dia murid yang terbilang jenius. Dia berada di kelas akselerasi yang hanya dimasuki oleh murid yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Meskipun dia putri dari pemilik sekolah ini namun dia tak mau dibeda-bedakan dengan murid yang lainnya karena itu hanya akan membuatnya merasa tersiksa.
“Annyeong haseyo, anak-anak!” Sapa Choi Songsaenim
“Annyeong, songsaenim!” Jawab semua murid dengan serempak
“Myung Soo-ya silahkan masuk” Pinta Choi Songsaenim, Soo Ra yang mendengar nama Myung Soo diucapkan oleh Choi Songsaenim langsung melihat ke arah pintu masuk kelas XI- A tersebut.
‘Myung Soo? Apa jangan-jangan...’ Gumam Soo Ra
Lalu orang yang dipanggil itu pun langsung masuk dan menghampiri Choi Songsaenim.
“Dia adalah murid pindahan dari Jepang, Myung Soo-ya silahkan perkenalkan dirimu”
“Nde, annyeong haseyo. Jeoneun Kim Myung Soo imnida, mannaseo bangaweoyo. Khamsahamnida”
“Myung Soo-ya kau boleh duduk di kursi kosong itu” Tunjuk Choi Songsaenim pada kursi yang ada di samping Soo Ra.
“Nde, songsaenim”
“Annyeong baby!” Sapa Myung Soo pada Soo Ra dengan suara yang agak pelan
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Soo Ra
“Belajar, memangnya apalagi?”
“Kenapa harus di sini? Tidak adakah sekolah selain sekolah ini?”
“Molla-yo, aku hanya menuruti apa yang dikatakan appa. Dan aku sekolah di sini. Wae? Apa kau tak menyukainya?”
“Ani-yo, aku hanya merasa sebaiknya kita menjaga jarak”
“Geurae, jika itu mau mu. Akan ku lakukan”
Pelajaran pun berlangsung lama, dan entah kenapa Soo Ra seperti tak berkonsentrasi sepenuhnya. Sesekali dia melihat Myung Soo, lalu kembali memperhatikan apa yang diterangkan oleh songsaenim.
‘Aish, kenapa aku terus memperhatikannya. Fokus Soo Ra fokus!’ Gumam Soo Ra dalam hati.
Kini saatnya istirahat, semua murid bergegas menuju kantin untuk mengisi energi kembali setelah terkuras habis akibat terlalu keras berpikir. Soo Ra Si Kutu Buku hanya menghabiskan waktu istirahatnya di rooftop sekolah untuk membaca di kursi yang telah tersedia sembari mendengarkan musik dengan ditemani oleh angin yang sepoi-sepoi dan disuguhi pemandangan kota Seoul yang indah. Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya, dia pun menoleh dan dilihatnya seorang namja tengah diterangi sinar matahari yang begitu menyilaukan. Lalu dia menyipitkan matanya untuk melihat jelas wajah namja itu.
“Sedang apa kau di sini?” Tanya Myung Soo
“Membaca, jangan ganggu aku jebal”
“Apa setidaknya kau makan sesuatu dulu karena ini waktu istirahat, jangan memaksakan tubuhmu untuk melakukan kegiatan yang melelahkan saat perutmu kosong”
“Tapi aku sedang tidak lapar” Jawab Soo Ra. Lalu terdengar suara perut yang sepertinya keroncongan meminta untuk diisi.
“Kau berbohong, perutmu saja lebih jujur dari pada perkataanmu sendiri. Ige, makanlah” Myung Soo menyodorkan sepotong roti kepada Soo Ra. Soo Ra hanya menatap roti dan Myung Soo secara bergantian.
“Apa kau memikirkan kalau aku memasukan sesuatu ke dalam roti ini. Ani, untuk apa aku melakukannya”
“Geurae, aku percaya padamu. Gomawo” Lalu Soo Ra memakan roti pemberian Myung Soo
“Ne, cheonma. Apa aku boleh duduk di sini?”
“Nde, tapi kau harus menjaga jarakmu denganku 1 meter”
“Aish jinja, geurae aku turuti permintaanmu. Lagipula aku takkan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin melindungimu” Lalu mereka pun duduk bersama, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Soo Ra yang sibuk membaca buku dan Myung Soo yang asyik memainkan ponselnya.
-
-
-
Kini semua murid telah pulang, hanya tinggal beberapa saja yang masih berada di sekolah untuk mengerjakan tugas mereka. Kali ini Soo Ra harus pulang sendiri, oppa nya sudah pulang lebih dulu karena ada kepentingan mendadak jadi tak bisa pulang bersama seperti biasanya. Soo Ra mengerjakan tugasnya mengetik beberapa naskah untuk memenuhi nilai hariannya dan dia juga ditugaskan membimbing Myung Soo karena dia adalah murid baru yang masih tak mengetahui apa-apa dan sedikit tertinggal. Kini mereka tengah berada di perpustakaan, mengerjakan tugasnya.
“Akhirnya selesai juga, sungguh ini benar-benar melelahkan” Ucap Soo Ra
“Benar. Kau akan pulang dengan siapa?” Tanya Myung Soo
“Sendirian, aku bisa naik taksi”
“Malam-malam begini sulit untuk mencari taksi, baby”
“Tidak ada salahnya kalau kita mencoba”
“Apa kau mau ku antar?”
“Ani, aku tak mau merepotkanmu. Aku masih bisa sendiri”
“Geurae, kalau begitu aku duluan ne. Annyeong!” Myung Soo pun meninggalkan Soo Ra yang tengah membereskan buku-bukunya. Setelah beres, lalu Soo Ra pun menyusul.
Soo Ra menunggu di halte bus, dia tahu bahwa bus sudah tidak ada lagi pada jam 21.30 PM ini. Lalu dia bermaksud menunggu taksi, tapi taksi pun tak kunjung datang. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan saja, karena jarak dari sekolah ke rumahnya tak begitu jauh.
‘Mungkin dengan melewati jalan tikus akan lebih cepat sampai rumah’ Pikir Soo Ra.
Saat dia memasuki sebuah gang dilihatnya ada tiga orang namja yang tengah mejeng, lalu Soo Ra bermaksud untuk memutar kembali ke jalan yang lain. Tapi salah satu dari namja itu melihat Soo Ra dan mereka pun mengejarnya, lalu Soo Ra bergegas untuk melarikan diri dari mereka, dia berlari sekuat tenaga.
“Hosh... hosh... Aku lelah, bagaimana ini mereka semakin dekat”
Lalu Soo Ra bersembunyi di balik sebuah tumpukan kardus dan berusaha untuk meminta bantuan dari oppanya. Ketiga namja itu kini berada dekat dengannya.
“Gadis manis di mana kau?” Tanya salah seorang namja
“Oppa takkan melukaimu” Timpal namja yang lainnya
“Eoma dan appa mu pasti menghawatirkanmu, mau oppa antarkan pulang?” Goda namja yang lainnya.
Soo Ra pun mencari kontak nama dan memencet dengan cepat sebuah nama tanpa melihatnya dengan tangan yang bergetar dan kondisi yang ketakutan dia memanggil nomor itu.
“Oppa tolong aku, aku berada di gang sepi di depanku ada sebuah toko roti Sweet Bread dan ada tiga orang ahjussi yang mengikutiku, oppa tolong aku. Aku takut oppa” Lirih Soo Ra
“[Oppa? Aku L baby. Geurae, aku akan segera ke sana. Jangan ke mana-mana]”
“L? Aish aku pasti salah pencet. Cepatlah kemari Myung Soo-ya, aku...” Telepon pun terputus.
“Aish, kenapa baterai ponsel ku harus habis di saat keadaan genting seperti ini!” Gerutu Soo Ra. Lalu tak sengaja Soo Ra menyenggol kardus di sampingnya sehingga kardus itu berjatuhan dan menimbulkan suara yang begitu berisik.
“Aish, mati aku! Eottokhae? What should I do?”
“Di situ kau rupanya gadis manis” Kata salah satu namja itu
Lalu Soo Ra menemukan sebuah balok kayu di belakangnya dan diambilnya balok kayu itu. Lalu dia bersiap-siap dalam posisi memukul jika namja-namja itu datang menghampirinya. Lalu terdengar langkah kaki mendekatinya, semakin dekat dan Soo Ra pun memukul orang tersebut. Kemudian lari meninggalkan namja-namja itu.
“Hiya! Gadis berengsek, jangan lari kau!”
“Kita berpencar!” Perintah salah satu namja
Namja-namja itu pun kembali mengejar Soo Ra, saat Soo Ra akan berbelok di hadapannya hanya ada jalan buntu dan di sisi lainnya dia sudah dikepung oleh namja-namja itu.
‘Ya Tuhan bagaimana ini? L kumohon cepatlah datang’ Gumam Soo Ra dalam hati
Kini dia benar-benar terdesak, namja-namja itu semakin mendekatinya.
“Ahjussi, jangan mendekat atau akan ku laporkan kau pada polisi!”
“Coba saja kalau kau bisa gadis manis”
“Aku ingin membalas pukulanmu barusan, ini lumayan sakit dan kau harus merasakan apa yang barusan ku terima darimu!” Ancam namja yang tadi dipukul oleh Soo Ra
“Jangan takut kami takkan menyakitimu” Goda yang lainnya
Namja-namja itu mencengkram tangan Soo Ra, Soo Ra berusaha untuk melawan tapi percuma kekuatannya tak sebanding dengan ketiga namja itu. Seorang namja dari mereka mencengkram erat kerah baju Soo Ra dan akan memukulnya.
‘L where are you? I need you, please come here’ Gumam Soo Ra dalam isak tangisnya
Lalu sebuah balok kayu terlempar keras ke arah namja yang mencengkram kerah baju Soo Ra dan menyebabkan namja itu melepaskan Soo Ra, tapi namja yang lainnya makin mencengkram erat tangan Soo Ra.
“Hiya! Siapa kau?” Tanya salah seorang namja dari mereka
“Keluarlah! Ayo kita berkelahi secara jantan” Pinta namja yang lainnya
Lalu kumpulan balok kayu terlempar keras mengenai namja-namja itu sehingga mereka terjatuh, waktu itu dimanfaatkan Soo Ra untuk menyelamatkan diri dari ketiga namja itu.
Lalu dilihatnya seorang namja yang masih memakai seragam yang sama dengannya di balik tembok dengan banyak balok kayu di sampingnya.
“Myung Soo-ya!” Lalu Soo Ra menghampiri namja itu dan memeluknya
“Myung Soo-ya aku takut” Lirih Soo Ra dalam pelukan namja itu
“Tenanglah, aku ada di sini. Gwenchana? Apa kau terluka?” Tanya Myung Soo
“Gwenchana, jangan tinggalkan aku”
“Aku harus melawan mereka, kau tunggulah dulu di mobilku ini kuncinya, jangan ke mana-mana dan kunci rapat-rapat pintunya” Pinta Myung Soo
“Apa kau yakin akan melawan mereka seorang diri?” Tanya Soo Ra dengan nada khawatir
“Ne, kan aku bisa karate dan pemegang sabuk hitam. Aku bisa melawan mereka”
“Geurae, be careful L!”
“L? Ne”
Lalu Soo Ra menunggu di dalam mobil Myung Soo seperti apa yang dipinta Myung Soo. Dan kini Myung Soo menghajar semua namja-namja itu dengan keahlian karatenya. Dia sedikit terluka akibat perlawanan yang diterimanya dari namja-namja itu, dan namja-namja itu kabur dengan babak belur. Myung Soo berhasil mengalahkan mereka semua, dan kembali ke mobilnya.
“Myung Soo-ya gwenchana?”
“Ne”
Soo Ra melihat darah keluar di sudut bibir Myung Soo.
“Omo? Ada darah di sudut bibirmu” Lalu Soo Ra mencoba mengelapnya
“Aww, appo-ya” Ringis Myung Soo
“Aku akan mengobatimu”
“Tanganmu?” Tanya Myung Soo kaget yang melihat tangan kanan Soo Ra sedikit bengkak
“Tadi aku mendapat cengkraman kuat dari ahjussi itu” Jelas Soo Ra
“Ayo kita pergi ke klinik, aku akan mengobatimu”
ooOoo To Be Continued ooOoo
My socmed \(^3^)/
FB --> Abfidan Akamyeong Mardiya
Twitter --> @kiya_elzara
IG --> @kiya_elzara Let's relationship with me! ^_~

Komentar
Posting Komentar